Sunday, February 28, 2021
Kelakar
Thursday, February 25, 2021
Ventilate
Wednesday, February 24, 2021
Safe space
I realize there is one thought that make me so hard to be close with other people. The barrier that I unintentionally build surrounding myself that I don’t simply allow people to get to know me better. Sometimes I just put the barrier so high that people will think I am either too unfriendly, difficult or fierce. When you get to know people, eventually when you get so close, you tend to share more than just a story, maybe it goes beyond your background etc and that what make me feel very uncomfortable when people ask me too much or digging my past story too much that eventually just make myself to end the conversation as soon as possible.
One reason I am doing this because the more I know about the other person who seem having a normal life or mentally stable, the more I feel hurt, knowing that I am having a difficult timeline. They are not wrong for having that. It is how life supposed to be. But exchanging such stories, just make me feel different. I can’t relate with their stories and they may not be able to relate with mine, unless they have some difficult stories that we both can support each other, and that is when the barrier breaks, little by little.
Having the safe space to give and share, knowing that even though you are not in the same cabin, maybe you are in the same boat. Maybe the situation might be different, but the emotion and feeling you are experiencing is the same. And only by that, I am able to relate and to become someone that I am really a human being.
And that exchanging stories can be so engaging and insightful. It is like a recharge and discharge your energy at the same time. The mutual emotional support that both can give because you know how hard it is to not being listened and understood. It is all seemed so soothing and healing at the same time, to finally able to find someone you can share with, without being judgmental.
However, one thing you should know, it may not be permanent. All the safe space you are having may be crushed within a minute when one of the parties already found their happiness somewhere else, while you are still struggling with your emotion. You thought you could go through this phase together, but you might be wrong. You are not expecting to stick together for the rest of the life, but at least you hope that the safe space is not being damaged.
Difficult
Sunday, February 21, 2021
Heal
I thought I could care for people unconditionally without hoping anything in return. I thought I can help and be a good listener or helper in providing some emotional support. But I was wrong. It never been easy to help someone when in fact your are the one who need help. It just a pitiful of your own self because you try to make other people feel better but you are still the one who are still struggling. It is more pitiful when the person you help have found their happiness while you are still defining your own happiness. It never been been easy.
Just focus on myself, heal myself first before healing others, find my own happiness first before helping someone finding their happiness. I try to be strong, but I just don’t have the capacity.
Stop hurting yourself. Heal yourself first, Amalina. That is too much for you to bear.
May you find your happiness, Amalina. If not in this world, maybe in the hereafter.
Saturday, February 20, 2021
Lesson
I told a friend of mine that I know I can’t depend on people for my happiness. Because I know if we put hope on other people we might be hurt because it may be just temporary, nothing last. Nothing is certain.
But my friend’s replies made me so touched, here is what I quote her message
Tbh, bila orang kata dont depend your happiness dekat others kita tak agree, because what if thats the only thing way kita look up to every morning and that’s the only way to fight for another? Yes, there’s a bit of consequence to that. Bila someone pergi, it feels like some part of you pun pergi or you feel worthless. So, I learned the next time, do not hope for anything bcs things are just uncertain and do the best what I can.
The part of what if depending your happiness on someone is the only things that we look up really smashed me hard. Sebelum ni, aku rasa yang happiness memang kena letak pada diri sendiri, sebab at the end kita yang memaknakan kebahagiaan tu. Aku cuba, bukan aku tak cuba. I usually do online shopping as a reward for myself. Although I know it is kind of waste, but that’s the only thing that makes me happy, and I looked up for that every month when I get my paycheck. I know I should have been saved some money. I do. But some of it I use for self reward. But still, that action of yourself to bring the happiness by your own, is not enough.
I am still looking forward for someone significant that I can share my happiness and sadness. Yes, sometimes, I do share with my family about my achievement etc but you know, being me, someone a random and nonsense things that I want t share is not relevant to be shared to my family members. The goofy side of me, the playfulness side of me. And that is killing me, not having someone that I can randomly share my stories.
Thanks my dear friend for spending some time to read and my random rants. I told her because I feel helpless, not having someone that can relate with my feeling. Although we are not in the same shoes, our difficulties might be in different angle, but I am very thankful that she can relate with my feeling. Knowing that someone you can rely on and be your safe space without hurting you and your emotion, is truly a blessing.
I learnt my lesson that I have put my reliant on the wrong person and that is just killing me. But my friend said, not waste your time on someone who did not think of your worth. That really take me back up.
I learnt my lesson, hardly.
Saturday, February 13, 2021
Reframe
Wednesday, February 10, 2021
Sudahlah
I think I realize in myself when I grow up, is that I don’t like to preach or influence people. Yes, I know, it is good to show a good example to other people, or advise each other. But the more I do it, the less unlikely that I feel it is myself. Atau mungkin saja aku sebenafrnya dah jauh daripada itu semua. Itu sebab bila nak mengatakan sesuatu yang aku tak buat jadi lebih sukar dan berat. Hmm. Entah.
Cumanya pernah satu masa dulu, aku berada dan cuba dalam kebaikan, tapi aku rasa aku belum cukup sempurna nak menjadi yang menasihatkan. Aku rasa aku masih banyak lagi lompong yang hanya aku sendiri yang tahu. Dan bila mana aku menjadi ‘budak baik’, aku rasa seperti aku dilihat sebagai orang yang sukar untuk didekati dan mungkin orang rasa aku bersikap judgemental. Tapi aku tahu, itu hanyalah sangkaan aku pada diri sendiri dan orang lain. Tapi ianya takkan menjadi sangkaan kalau bukan aku yang merasai dan menghadapi.
Bila mana aku menjadi terlalu ‘baik’ bukanlah aku tak dapat apa yang aku nak. Aku cuba merangka yang baik-baik sahaja untuk kehidupan aku. Tapi kita sebagai manusia hanya mampu merancang, tetapi pada akhirnya Dia jua lah yang menentukan. Mungkin dan memang ada saja sisa-sisa dosa yang terbaki yang menjadi penghalang untuk aku dapat atau selesaikan apa yang aku impian. Tapi itu hanyalah andaian aku. Aku tetap bersangka baik pada Allah kerana segala apa yang Dia telah aturkan untukku hingga ke saat ini, pasti akan ada hikmah di sebaliknya. Hikmah yang mungkin akan muncul dalam beberapa ketika lagi, jika aku bersabar.
Memang jalan ini tak semudah seperti orang lain. Kalau orang lain boleh hadapi garis masa kehidupan yang biasa, aku terpaksa melalui garis masa kehidupan yang entah aku tak tahu macam mana nak aku gambarkan. Ada masa aku rasa akulah orang terpaling bahagia, ada masa aku rasa akulah orang paling berduka, ada masa aku tidak merasa apa-apa. Tapi itu hanya apa yang aku rasa, yang mana orang lain melihat mungkin aku sudah punya kelebihan-kelebihan yang lain, tapi aku tetap dengan rasa ketidaksempurnaan aku. Saat aku rasa aku insan paling berduka, sebenarnya orang lain jauh lagi duka daripada aku. Tak, bukan aku tak bersyukur, apatah lagi menolak segala rezeki yang telah dilimpahkurniakan padaku. Aku sangat bersyukur. Cumanya aku rasa emosi dan perasaan itu pada satu-satu masa, perlu divalidasi. Bukan untuk membandingkan dengan orang lain, tapi cukup untuk melihat dan merasa emosi yang terkesan dalam diri, untuk ada rasa kasihan pada diri, untuk rasa, perasaan dan emosi kita juga punya hati. Kita juga manusia, bukan. Sedih dan bahagia itu pasti akan silih berganti.
Pada ketika ini, aku cuba berkongsi rasa dan hati, tapi aku tak mahu terlalu meletakkan validasi perasaan pada manusia sehingga aku lupa manusia itu kan sifatnya sementara. Aku juga manusia, aku juga sementara. Walau seribu kali aku rasa ingin bercerita, seribu kali juga aku rasa cerita aku sekadar cerita rawak yang tak memberi apa-apa makna.
Ah sudahlah.
Monday, February 8, 2021
Deactivate
Hari tu aku rasa macam nak deactivate Facebook lama-lama. Dari dulu lagi aku nak buat sebenarnya tapi sebab aku masih ada komitmen yang perlu aku on FB, so aku hold dulu niat aku nak deactivate. Bila ada satu masa yang aku dah takde komitmen, ha waktu nilah aku rasa nak lari sekejap daripada dunia maya.
Tapi bila fikir balik, bukan nak lari sangat pun. Mungkin ada sikit. Sebab macam semua orang nak flex kehidupan masing-masing je, haha aku jadi serabut. Ye lah, dengan lingkungan kawan aku pelbagai. Ada yang dari sekolah rendah, sekolah menengah, universiti apa semua yang ada dua zaman, aku rasa faham adeh penat lah. Lagi-lagi kalau jenis content cringe, hmm rasa nak hempuk-hempuk je. Betullah senior aku kata dulu umur lepas grad adalah umur meroyan yang mana semua orang macam keluar lah caption nak kahwin lah apalah. Alahai. Simpan sendiri sudahlah. Hahah. Tapi aku tak salahkan siapa-siapa pun. Aku pun pernah fasa begitu. Mungkin bagus juga mereka ada fasa begitu yang meluahkan secara terbuka, at least at the end nanti dorang kahwin la awal kan. Kalau tak, ngeh, single la, apa lagi padan muka. Muda-muda dulu taknak cari orang. Ha, kan dah outdated daripada market. Kahkah.
Oh tapikan, berbalik kepada deactivate FB tu, aku ingat aku nak melarikan diri sekejap, tapi rupanya aku tak dapat nak lari pun sebab sosial medialah dunia aku sekarang. Internet lah tempat aku lihat dunia luar. Aku rasa bukan aku je kot. Orang lain pun. Dalam fasa pandemik ni, nak keluar sangat pun tak boleh. Hmm. Atau mungkin aku boleh cuba memasak ke apa kan. Tapi entahlah mood memasak aku dah lama hilang lepas hilangnya separuh emosi aku. Percayalah, dulu aku kat UK dulu suka je masak untuk adik-adik usrah. Kadang time usrah, aku masakkan diorang carrot cake, ada je benda baru nak cuba. Nak beli barang pun senang. Otw balik kelas singgah je Lidl ke Poundland ke or Morrison beli barang nak masak. Oh I miss UK. Insha allah ada kesempatan nanti aku nak ke sana lagi. Maybe dengan suami ke. Kahkah perasan. Tapi betul apa. Hmm sapotlah sikit. Hahah.
Hahah. Aku pun taktahu lah kenapa aku tulis post ni mungkin saja nak bermonolog seorang diri. Ha, kalau terbaca jangan judge aku. Aku takde member dah sembang ni. Korang kena faham. Dulu time study year kat sini, ade lah member ajak berfikir dan berbual. Kadang-kadang aku stay overnight kat rumah diorang, pillowtalk apa semua. Sekarang ni mana nak dapat bhai. Semua orang struggle masing-masing lah. Bagi yang telah bertemu member berbual seumur hidup tu, tahniah sis ucapkan. Ah bosan la tajuk jodoh ni.
Ok kita masuk topik menyimpan kewangan pula. Serius weyh, apa perancangan kewangan korang eh (ala-ala ada orang blogwalking baca blog aku kahkah). Mungkin aku dah terlambat sikit lah nak buat perancangan kewangan. Patutnya dari umur 24 ke apa lagi kan. Tapi nak buat macam mana, hidup mesti diteruskan, yeah. Tapi alhamdulillah bila aku dapat pengecualian PTPTN hari tu, sedikit sebanyak aku rasa dah terlepas dari satu beban kewangan. Tapi perjalanan aku masih jauh weyh. Sumpah jauh. Dah ah, aku taktahulah apa akan jadi akan-akan datang ni tapi aku berharap apa yang aku rancang indirectly akan dipermudahkan. Apa yang aku rancang? Entah. Haha. Aku takde specific perancangan. Tapi aku berharap bila masa berlalu, urusan aku dipermudahkan. Nanti bulan 9, 10, 11 macam tu, aku dah ken start fikir kerja yang betul-betul. Dan aku harap waktu tu covid pun dah reda dan aku pun boleh berhijrah ke mana-mana (walaupun aku rasa kan best kalau lepas je aku habis master ni, aku boleh fikir ke fasa kehidupan seterusnya pulak kahkah). Kau tengok harapan ku menggunung tinggi. Takpelah, nanti time tu, aku cari jodoh kat portal cari jodoh ke en. Weyh, ada apa kawan aku bertemu jodoh kat situ. Ko jangan main-main. Cuma aku belum bersedia lagi lah nak all out cari sebab aku takleh ah, aku akan judgmental dengan gambar orang. Ye, aku tau, aku pun orang boleh, aa takpelah sis redo. Siapa suruh single. Hahah
Wah panjang lebar aku membebel. Sekurang-kurangnya aku rasa aku boleh berjenaka dengan diri sendiri. Penat lah buat lawak dengan diri sendiri pastu sengih ketawa senget sipi-sipi je. Dah lama tak ketawa dengan orang. Hahaha. Aku ni kelakar orangnya. Dulu waktu umur aku 20-an aku lah penceria kehidupan kawan-kawan. Tapi bila aku ditimpa sesuatu yang mendukacitakan, aku rasa aku hilang sense of humor tu, yang orang lihat hanyalah garang dan jangan diusik. Entahlah nak.
Nak membebel kat FB pun rasa macam takde siapa nak kisah dan baca. Ye lah, kau bayangkan aku tulis semua benda alah ni kat FB, maunya orang kesiankan aku. Hahah. Walaupun aku suka je orang care pasal aku, tapi, hmm apa maknanya. Tiada maknanya. Ok lah, sis raklu. Pape roger.
Tuesday, February 2, 2021
Capai
Maybe at one point I’m being too ambitious, atau overthink. Tapi aku rasa perlu aku berfikir jauh dan ambitious dengan situasi aku sekarang yang mana aku tak boleh bergantung harap pada orang untuk settle-kan my own struggle and problem, even my own family and siblings, sebab masing-masing ada komitmen masing-masing.
Selagi aku belum capai apa yang aku nak atau jumpa dengan someone (hew hew) yang nak bersusah payah dengan aku, selagi tu aku akan rasa insecure. Selagi tu aku akan rasa aku hanya cuma bebanan yang tak mampu beri sumbangan pada orang, apatah lagi pada kedua ibu bapa aku.
Mungkin berfikiran jauh ni ada baiknya, sebab aku tahu layaknya aku di sisi orang (phew geli la pulak jiwang-jiwang ni) tapi serius, there are still a lot that I want to accomplish but I have to struggle for it. My clock is ticking. People may say, age is just a number, but for me, it is like a time bomb. If I don’t start planning my life now, I would be a dead meat, yang takde hala tuju, yang lost dalam kehidupan, yang tak mampu nak capai apa-apa. Pathetic. Sekarang aku patut fikir jugak dah pasal investment, pasal saving. Ye, memang indah difikirknan bersama padangan (pfft) tapi better lah fikir je sendiri dulu sebab jodoh yang pasti tu kan kematian. Hehe. Jodoh di dunia ni kan hanya sementera. Dapat insuran ke apa yang khairat kematian untuk orang yang ditinggalkan pun dah kira ok dah tu. Hihi.
Oklah. Malas dah lah nak sedih-sedih. Fikir padia. Orang lain dah sibuk dengan life realiti. Aku masih sibuk dengan life dan penulisan sendu di blog. Sobs. Haih, sendunya kehidupan. Haha.
_________
Just a random conversation with my friend the other day
Me : Weyh, ko nak tau tak, orang yang pernah approach aku hari tu, rupanya dia dah kahwin dah. Aku jugak yang kalah
Aku sajalah stalk. Rupanya dia dah remove aku dari ig followers dan nampak dp gambar kahwin. Hew. hew.
Dia : Mana ada kalah menang. Kau ni pun.
Me : Kalah la. Reject2 orang. Last-last single jugak. Booo. Padan muka jual mahal. Camtulah konsep dia.
Aku cuba berhujah.
Dia : Tak jual mahal pun. Kalau bukan jodoh, tak jadi jugak. So anggap je lah macam tu. Tak yah penat-penat jaga jodoh orang.
Kawan aku sedaya upaya taknak buat aku rasa down. Haha.
Me : Tapi kan aku ada cipta satu quote hari tu. Kau lupa ke. Aku tak kisah dah kalau sebenarnya aku jaga jodoh orang. Entah-entah sebenarnya orang pun tengah jagakan aku untuk jodoh aku. Kahkah.
Aku gelak sendu.
Monday, February 1, 2021
Detik
Kadang-kadang bila aku rasa down atau perlukan sosuatu utk boost balik motivation, aku akan tgk balik penyertaan atau kejayaan yang aku penah dapat. Tapi bukanlah kejayaan hebat jika nak dibandingkan dengan orang lain yang pernah capai itu ini, wakil itu ini. Tapi kejayaan yang aku sendiri men-definisioperasi-kan.
Aku rasa dari kecil, aku bukan jenis orang yang sukakan pertandingan. Aku tak suka bertanding untuk menang. Aku akan overwhelm dengan rasa menang. Aku taktahu lah, mungkin ianya boleh jadi kelemahan sebab taknak jadi yang terbaik untuk compete dengan orang lain. Tapi tak bermakna aku buat sambil lewa.
Sebab, kehidupan aku selalu jadi begini; bila mana aku tak bertanding, aku tak berharap, akhirnya, itu yang aku akan dapat, dengan izin Allah. Kadang2 boleh jadi, aku tak merancang, tapi ianya hadir di depan mata, dengan cara yang aku tak pernah sangka.
Dari situ, aku belajar untuk tidak terlalu mengharap, tapi teruskan usaha, dengan kapasiti aku. Buat selagi mampu; dengan ihsan dan itqan. Moga keputusan yang dapat lepas tu, itulah yang terbaik yang telah ditetapkan.
Dari situ juga, bila aku belajar untuk bersederhana meletakkan pengharapan pada dunia, aku rasa kurang kecewa bila ianya tak menjadi milik aku. Aku belajar untuk melepaskan. Aku belajar untuk rasa reda. Tak kiralah dalam skop apa pun. Atau mungkin saja, rasa sakit apabila tak dapat capai sesuatu yang diharapkan, masih berbekas.
Hmm.
Entahlah. Mungkin ini sebenarnya hanya fasa mendewasa; yang setiap hari, aku mula mengira detik waktu dan derapan langkah.
Entahlah.
2025
2025 Sedikit sedikit aku melangkah malas menjejak tahun 2025. Pejam celik pejam celik, sudah masuk bulan tiga dan bulan berpuasa. Tahun 202...
-
I thought I could care for people unconditionally without hoping anything in return. I thought I can help and be a good listener or helper i...
-
At some point I seem to allow people to come into my life but I am also worried that I can't save the space anymore for a long term. I j...
-
Jam 9 pagi lagi dah terpacak kat pekan Tanjung Malim. Lebih pun sipi-sipi kalau boleh. Sebolehnya nak memecah stigma janji Melayu. Kat pos...
